Sekilas Berita

 
 Lampion merupakan nama sebuah tim nasyid yang berdiri di Jakarta pada tanggal 10 November 1997.Ketika itu semua personilnya merupakan anggota remaja mesjid Lautze. Namun seiring dengan pergantian kepengurusan dan kesibukan dari tim nasyid Lampion, maka sejak tahun 2000, tim nasyid Lampion berdiri sendiri.

 
Home
Didi, Syiar Islam kepada Warga Keturunan PDF Print

Sosok Haji Ahmad Affandi (41), yang akrab dipanggil Didi, tidak asing bagi umat Islam di Palembang. Didi adalah Ketua Pembina Iman Tauhid Islam Sumsel yang dahulu dikenal sebagai Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

Belakangan, nama Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) Sumsel semakin dikenal setelah Masjid Muhammad Cheng Ho di Jakabaring, Palembang, diresmikan.

Menurut Didi saat dihubungi Kompas, Minggu (24/8), PITI sebuah organisasi yang berbeda dengan parpol ataupun organisasi sosial lainnya. PITI sama sekali tidak memiliki tujuan politik.

”Tujuan PITI adalah menjelaskan apa itu Islam kepada warga keturunan. Seperti firman Allah, kalau kita bersabar, Allah akan memberi jalan,” kata Didi, yang baru sebulan dilantik menjadi Ketua PITI Sumsel periode 2008-2013.

Didi yang bergabung dengan PITI tujuh tahun lalu mengatakan, anggota PITI di Palembang ada 4.000 orang. Jumlah tersebut belum seluruhnya karena banyak warga keturunan yang beragama Islam, tetapi belum bergabung dalam PITI. Oleh sebab itu, tujuan PITI juga menyambung silaturahmi antarwarga keturunan yang beragama Islam. ”Masih banyak warga keturunan yang ragu-ragu. Mereka mengira PITI adalah organisasi politik,” kata Didi yang lahir di Curup, Bengkulu, 30 September 1967.

Didi sejak kecil adalah seorang Muslim, bukan seorang mualaf. Kakek Didi, yaitu Haji Lee Buk Song dari Dusun Pulogeto, Curup, juga seorang Muslim yang kemudian mengganti namanya menjadi Haji Abdul Hamid.

Didi mengungkapkan, dalam beragama tidak bisa dipaksakan karena agama sifatnya hidayah. Apalagi warga keturunan sangat menghargai nenek moyangnya. Namun, kata Didi, yang terpenting adalah melakukan syiar Islam kepada warga keturunan bahwa Islam adalah agama yang membawa kedamaian.

”Islam itu indah. Kita beriman sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Islam itu memudahkan,” kata Didi.

Kegiatan Didi di sela profesinya berbisnis mobil adalah mengadakan pengajian rutin Al Aman sekali sebulan di rumahnya di Jalan Bambang Utoyo 250-251 Palembang. Didi aktif mengikuti pengajian Ahlus Sunnah wal Jamaah di Masjid Agung Palembang pimpinan Kiai Haji Zen Syukri. Didi juga selalu menyempatkan diri menghadiri kegiatan-kegiatan para ulama.

Kepada ketiga anaknya, Didi menekankan pentingnya pendidikan agama. Anak-anak harus dibimbing soal agama sejak umur 6 tahun sampai 10 tahun. ”Saya memberikan pendidikan agama sejak dini. Insya Allah mereka mengamalkannya,” kata Didi. (WAD)

"Kompas" 

 

Polling

Bagaimana Menurut Anda Toleransi Beragama di Indonesia
 

Hijriah

Shafar

2


Senin
1439 HIJRIAH

Pengunjung

mod_vvisit_counterHari Ini9
mod_vvisit_counterBulan Ini506
mod_vvisit_counterSemua48073